Bertualang menyusuri goa LOwo


GUA LOWO menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur. Wisata alam ini tak jauh dari Pantai Prigi yang juga menjadi andalan karena menyajikan panorama yang indah.

Gua ini terletak di Desa Watuagung Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. Gua ini terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Trenggalek. Sedangkan dari Yogyakarta – Trenggalek bisa ditempuh perjalanan darat selama enam jam. Gua Lowo, atau gua kelelawar memiliki keajaiban alam berupa bentukan bebatuan mineral cantik secara alamiah. Bentuknya mirip binatang Singa atau Kura-kura sehingga bebatuan itu diberi nama sesuai bentuknya.

Tiba di kawasan Gua Lowo, pengunjung disambut suasana udara pegunungan yang sejuk dengan aroma hutan jati yang khas. Gua Lowo memang dikelilingi hutan jati yang rimbun. Begitu melewati mulut gua pengunjung langsung disambut ruang gua pertama yang cukup luas. Langit – langit gua ini memiliki ketinggian 20-50 meter, dengan lebar gua sekitar 50 meter.

Keindahan dinding gua dengan stalaktit menggantung maupun stalagmit yang mencuat dapat dinikmati selepas pengunjung masuk mulut gua. Gua ini telah dilengkapi sarana penerangan listrik dan jalan jembatan buatan yang memudahkan pengunjung mengamati suasana sejuk dan segar gua yang dialiri air bersih bergemericik dibawahnya.

Berdasarkan survei ahli gua Gilbert Manthovani dan Dr. Robert K Kho tahun 1984 dinyatakan bahwa Gua Lowo merupakan gua alam terbesar di Asia Tenggara dengan panjang gua 800 Meter. Gua ini mempunyai sembilan ruang utama yang agak lebar dan beberapa ruang kecil. Gua Lowo juga menyimpan berbagai misteri.

Menurut cerita, seorang bernama Mbah Lomedjo dahulu kala masuk hutan mencari tempat untuk melaksanakan semedi. Dia menemukan gua kecil yang dianggap cocok untuk bertapa yakni sebuah gua dekat dengan kedung yang berwarna
kebiru-biruan, yang akhirnya dinamakan Kedung Biru. “Kedung Biru lokasinya kurang lebih 600 meter timur laut Gua Lowo. Petilasan ini sampai sekarang masih digunakan orang – orang untuk bertapa,” ujar Yuyuk, salah seorang petugas di Gua Lowo.

Dari hasil berpuasa dan bersemedi, Mbah Lomedjo mendapat mimpi bahwa sekitar tempat dia bertapa ada sebuah gua lain yang lebih besar tempat bersembunyi berbagai hewan buruan. Ia lalu mencari dan menemukan Gua Lowo yang lebih besar, gelap, dan dipenuhi kelelawar dengan bau yang menyengak hidung. Masyarakat lalu menyebut tempat itu dengan nama Gua
Lowo. Di titik-titik tertentu, memang masih dapat ditemukan banyak kelelawar beterbangan di atas gua ini.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek sejaK 1984 menjadikan obyek wisata unggulan. Namun keterbatasan dana dan situasi
yang kurang menunjang saat itu mengakibatkan pengembangannya sangat lamban sehingga hingga kini belum terlalu banyak dikenal dan dikunjungi wisatawan. Jalan aspal beberapa ratus meter menuju gua ini belum mulus.

Namun sudah ada usaha mempolulerkan tampat ini, salah satunya dengan membangun arena mainan anak – anak di luar gua. Pada hari libur seringkali juga ada hiburan musik yang dipentaskan dipanggung gembira. Salah satu usaha lain untuk meramaikan objek wisata ini adalah memasang ‘sound system’ di beberapa titik gua. Sayangnya fasilitas ini dirasa justru mengganggu.Ketika dikunjungi penulis, justru diputar musik dangdut keras-keras, yang malah menghilangkan suasana alami, damai dan khusyuk di kawasan gua ini. (Denny Hermawan)(krjogja.com)

Posted on July 12, 2012, in wisata and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: