Taman sari Yogyakarta semakin Miris

Yogyakarta
TAMAN SARI menjadi salah satu objek wisata andalan Provinsi DIY. Bangunan yang berlokasi dalam Kraton Ngayogyakartahadingrat ini dibangun pada tahun 1758 hasil prakarsa Pangeran Mangkubumi (yang kemudian bergelar Hangkubuwono I).

Saat KRnewsroom bertandang ke bangunan yang diarsiteki Demang Tegis (orang Portugis yang mendapat gelar dari kerajaan) bersama Ronggo Prawirosentiko (Bupati Madiun) sebagai mandor masih tampak sisa-sisa kemegahannya. Suasana asri seolah terbayang dan menembus waktu karena istana itu dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya.

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.500 per orang, melalui Gapura Panggung bisa menyaksikan beberaoa kolam pemandian itu. Menurut seorang pemandu wisata setempat, pada zaman itu dari gapura ini bisa menyaksikan tarian di bawah. “Bangunan disampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka,” katanya baru-baru ini sambil melanjutkan perjalanan ke area yang (dulu) hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya.

Gemericik air langsung menyapa. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).
Ditambah menara tempat pribadi Sultan. Konon dari atas menara berlantai tiga ini, Sultan mengadakan sejenis sayembara untuk memilih para selir dengan menjatuhkan sekuntum bunga. Sedangkan di lantai paling atas Sultan bisa menikmati pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatan ditambah bunga yang semerbak mewangi. Sayang, di dinding menara ini penuh coretan tangan jahil pengunjung. Entah, kawasan ini penuh nuansa romantisme, pengunjung yang sedang dimabuk asamara menuliskan namanya di ‘prasasti’ agung itu menggunakan spidol atau cat pilox.

“Tulisan dan coretan-coretan itu sudah lama. Sangat disayangkan menara sekaligus kamar pribadi Sultan penuh dengan coretan para pengunjung. Sampai saat ini masih dibiarkan saja,” imbuh pemandu wisata yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di Kompleks Taman Sari.

Dia lantas membawa pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari. Sebelum berperang Sultan melakukan semedi. Suasana senyap dan hening langsung terasa. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris zaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang. Selanjutnya ke Gapura Agung tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Kunjungan belum berakhir karena masih ada tempat menarik lainnya seperti Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting.

Akhirnya sampai ke Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauhterasa seperti mereka sedang berada di samping . Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Akhirnya sampai di tengah masjid berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya.

Perjalanan berakhir di Gedung Kenongo yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap dan menjadi gedung tertinggi se Taman Sari. Tak mengerankan bisa melihat keseluruhan komplek Taman Sari misalnya Masjid Soko Guru di timur dan ventilasi dari Tajug. Namun, saat ini kondisinya tidak terawat ditambah beberapa coretan di bagian dinding.

Tidak jelas apa maksud coretan menggunakan cat semprot itu. Bangunan cagar budaya ini menjadi tempat membolos para siswa. Meski masih mengenakan seragam dan jam pelajaran sekolah, berkumpul dengan rekan lainnya sambil menghisap habis rokok di tangannya. Selain itu, ada yang memanfaatkan untuk berfoto atau para karyawan melepas lelah sampai terlelap. (KRnewsroom/Tom)

Posted on July 12, 2012, in wisata and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: